en id

Berita

Cerita di Balik Posko Crisis Center QZ8501 Juanda

01 Jan 2015

kembali ke list


Surabaya - PT Angkasa Pura I mendadak ramai ketika Pesawat AirAsia QZ8501 mengalami lost contact pada Minggu (28/12/2014) lalu. Perusahaan plat merah ini dengan cepat mendirikan posko Crisis Center.


Ruangan Serba Guna di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda pun disulap sedemikian rupa untuk menampung keluarga penumpang pesawat maskapai asal Malaysia itu. Direktur Utama PT Angkasa Pura I Tommy Soetomo menyebutkan peristiwa AirAsia ini adalah unusual condition.

"Kami memang mempunyai program pelatihan Unusual Condition Excercise untuk menghadapi situasi yang tidak terduga. Jadi kami sudah siap dari segala kemungkinan," kata Tommy di Crisis Center, Rabu (31/12/2014).

Musibah AirAsia QZ8501 yang hilang dan telah ditemukan di selatan Selat Karimata merupakan ujian pertama Angkasa Pura I. "Kami harus bergerak cepat, karena dunia pasti melihat Indonesia saat itu," kata Tommy.

Meski diakui Tommy, tanggung jawab terhadap penumpang dan keluarganya seharusnya tanggungjawab sepenuhnya pihak maskapai yang bersangkutan. "Tapi ini musibah, negara harus hadir dengan cepat. Kami Angkasa Pura harus provide karena kami yang paling siap secara infrastruktur. Bagaimanapun juga harus ada yang memimpin dan bertindak dengan cepat," ujarnya.

Apalagi ini menyangkut harkat martabat bangsa. "Pertama yang terpikir dari kami adalah penumpang dan keluarganya. Mereka harus kita layani dengan baik," kata Tommy.

Selanjutnya, Tommy harus mempertimbangkan kenyamanan keluarga penumpang yang pastinya diliputi kecemasan. Makanan hingga layanan psikolog langsung disiapkan. Ruangan yang masih gres pun dibagi-bagi sesuai kebutuhan.

Keluarga yang memprotes keterbatasan jumlah unit televisi pun direspon dengan cukup cepat. Hanya selang dua jam, 8 unit televisi baru didatangkan dan dipasang di dalam ruangan khusus keluarga.

"Termasuk fasilitas untuk live video conference yang diminta keluarga dengan Basarnas Pusat, kita siapkan dengan kerjasama Telkom," terang dia.

Hari ketiga, Tommy juga menyiapkan ruangan yang diperuntukan kantor maskapai sebagai ruang istirahat keluarga dan dokter Polda Jatim serta relawan psikolog.

"Semua kita siapkan, apapun yang diminta selama bisa kita sediakan maka akan penuhi. Ini semata-mata karena kita mempertimbangkan kepentingan keluarga," katanya.

Secara teknis, kata Tommy, semua infrastruktur dan manajemen penangangan situasi krisis bisa dihadapi karena pihaknya secara periodik melakukan simulasi dan latihan. "Namun yang bagi kita susah adalah menghadapi keluarga. Karena di latihan atau simulasi menghadapi keluarga yang sesungguhnya itu tidak pernah terasakan. Ini yang membuat kita was-was," kata Tommy.

Kepentingan media di posko itu pun tak luput dari perhatian Angkasa Pura I. Ratusan wartawan dari dalam dan luar negeri tentunya memerlukan fasilitas dan sumber listrik.

Dinding gendung baru itu pun terpaksa dibor untuk lubang kabel listrik. Wartawan pun bisa menikmati aliran listrik untuk memudahkan tugas-tugas jurnalistiknya. "Tempat jumpa pers meski sederhana juga kita siapkan, konsumsi seperti makan, kopi maupun mie instan kita sediakan," katanya.

Angkasa Pura I memang harus siap, termasuk mengenai anggaran saat situasi krisis seperti saat insiden AirAsia ini. "Anggaran kita ada alokasinya, tapi memang ada beberapa nantinya yang harus kita mintakan ganti ke maskapai yang bersangkutan," ungkapnya.

Kini tepat di malam pergantian tahun 2015, posko crisis center yang dibidani Angkasa Pura I pun sudah pensiun seiring sudah ditemukan serpihan pesawat dan beberapa jenazah penumpang. Posko pun diboyong ke RS Bhayangkara di Mapolda Jawa Timur yang dijadikan pusat identifikasi jenazah.

"Posko sudah pindah ke RS Bhayangkara," katanya.

Dengan berakhirnya posko di wilayahnya, Tommy mengucapkan terima kasih kepada awak media yang membantu menginformasikan proses pencarian hingga ditemukannya AirAsia di laut. Meski begitu, Tommy tidak bisa menyembunyikan rahasia yang sempat membuatnya galau.

Tommy bersama kru PT Angkasa Pura I serta Basarnas Surabaya sempat diliputi kecemasan. Puncaknya pada Selasa (30/12/2014) sore atau saat Basarnas pusat mengumumkan secara resmi penemuan AirAsia di perairan Pangkalan Bun.

"Kami sebenarnya sudah diberitahu penemuan itu sekitar 45 menit sebelum pengumuman penemuan pesawat QZ8501," ungkap Tommy.

Rapat koordinasi digelar mendadak di bagian belakang ruang Crisis Center. Semua pihak sepakat harus siap menghadapi beragam reaksi keluarga penumpang yang bakal terjadi bila menyaksikan pengumuman resmi melalui siaran langsung televisi swasta.

"Kami sudah memprediksi reaksi keluarga. Histeris dan shock itulah yang harus kita hadapi. Kita tidak pernah menghadapi jumlah keluarga yang banyak seperti itu," kata dia.

Secara diam-diam, Tommy memerintahkan anak buahnya menyiagakan 10 kendaraan ambulans beserta tim kesehatan. "Tapi ambulans itu kita sembunyikan tempatnya, kalau kita jejer di depan bisa tahu sendiri seperti apa reaksi keluarga. Kita berusaha memahami emosi keluarga," kata Tommy.

Link : http://news.detik.com/read/2015/01/01/044833/2791618/10/3/cerita-di-balik-posko-crisis-center-qz8501-juanda